Dari siapa kita bisa mengambil tarekat?

Shaykh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A`udzu billahi min ‘asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim. `Athi Allah wa `athi’ur Rasul wa uli’ l-amri minkum.

Kita membicarakan dari mana kita dapat mengambil tariqah; siapa yang dapat mengajar dan memberi baya’. Ada sebuah tanya-jawab antara Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه dan seorang tamunya, Syekh Abdur-Rahiim al-Maghribi dari Maroko, yang telah belajar di bawah bimbingan Sayyidina Khidr (a) selama sembilan tahun, menerima berbagai macam Ilmu Ilahi.  Dan dari tanya-jawab mereka, kita dapat mempelajari karakteristik siapa seseorang itu dan dari mana kalian dapat belajar.  

Ketika kalian ingin belajar tentang Alquran, kalian tidak dapat mengajari diri sendiri; kalian dapat menghapalnya, tetapi itu bukan jalan yang benar.  Kalian harus belajar dari seseorang yang mempunyai otoritas untuk mengajar Alquran, seorang qaari, karena mereka mengetahui cara pengucapan yang benar, tajwiid, tartiil, dan semua aturan pembacaan khusus lainnya, bagaimana setiap huruf diucapkan.  Mereka telah dilatih melalui serangkaian pembaca yang semuanya kembali kepada para Sahabat, yang belajar Alquran dari Nabi (s).

Serupa dengan itu, dalam ajaran spiritual kalian harus mengambil dari seseorang yang telah mempelajarinya dari gurunya dan seterusnya hingga sampai pada Sahabat dan Nabi (s). Kalian tidak bisa mengambilnya begitu saja dari seseorang; kalian harus mengambilnya dari seseorang yang telah merasakan dari Realitas, dan ia akan meletakkan (Ilmu Ilahiah) di lidah kalian dan di dalam hati kalian.  Sebagaimana yang kita katakan dalam sesi sebelumnya, Syekh Abdur-Rahiim Maghribi bertanya, “Dari mana engkau mengambil tariqah ini?  Apakah dari seorang wali yang dapat bicara dengan orang-orang mati dari Timur ke Barat?” dan Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه menjawab, “Tidak!”  Lalu ia bertanya, “Apakah dari wali yang tahu segala sesuatu di alam semesta, yang memuji dan mengagungkan Allah  dari Timur ke Barat?  Dapatkah aku mengambil tariqah darinya?  Dapatkah aku belajar dengannya?”  Dan sekali lagi Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه menjawab, “Tidak.” 

Lalu Abdur-Rahiim al-Maghribi tidak tahu lagi harus berkata apa.  Jika kau tidak bisa mengambil dari wali itu dan tidak juga dari wali yang satunya lagi, lalu siapa yang memenuhi syarat untuk memberinya tariqah? Kita tidak bicara tentang hal-hal yang berhubungan dengan ulama, di mana kalian dapat mengambil ilmu dari siapa saja.  Di dalam tariqah ada batasan-batasan dan wali yang tidak mempunyai hak atau otoritas tidak dapat mengajar dan ia akan diam.  Banyak awliya yang tidak diketahui atau dikenal orang-orang, mereka diam.  Apa manfaat dari ajaran wali bila ia tidak dapat mengangkat kalian sampai pada levelnya?  Itulah sebabnya ketika Grandshaykh, semoga Allah memberkatinya, diminta untuk menerima tanggung jawab bagi tariqah, beliau berkata, “Aku tidak menginginkan tanggung jawab itu.” Syekh beliau, Syekh Syarafuddin قدس سرّه, berkata, “Tak seorang pun diperintahkan untuk membawa tariqah. Mengapa kau mengatakan ‘tidak’?” Grandshaykh berkata, “Apa manfaatnya ya Sayyidii, jika aku tidak dapat mengangkat murid-murid ke levelku ketika mereka duduk bersamaku?”


Jadi awliya tahu pentingnya memberikan tariqah.  Saya akan mengutip di akhir bagaimana buruknya mendengar seseorang yang tidak mempunyai tanggung jawab untuk mengajar tariqah, karena semua ajarannya akan menjadi negatif pada diri kalian, karena ia tidak memenuhi persyaratan dalam memberikan tariqah.

Jadi kemudian Syekh Abdur-Rahiim Maghribi menanyakan Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه pertanyaan ketiganya, “Dapatkah aku mengambil atau mempelajari tariqah dari seorang wali yang sanggup mencapai bagian bawah Arasy dan semua level di bawahnya?” Itu artinya bahwa wali itu telah mencapai kemampuan untuk sujud di bawah Singgasana Allah .  Dan Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه tetap diam, lalu ia bertanya lagi, “Ya Sayyidi, demi Allah, dapatkah aku mengambil tariqah dari seseorang yang mampu mencapai level di bawah Arasy dan seluruh level di bawahnya?” Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه kembali melihatnya dan berkata, “Tidak.”

Jika ini “tidak”, dan ini “tidak”, dan yang ini “tidak”, dari mana ia akan mengambil ilmu itu?  Itu artinya apapun yang kita bicarakan itu belum dari level yang benar untuk diajarkan, yang artinya kalian belum memenuhi syarat untuk mengajarkan dan orang-orang yang mendengar belum mendapat tariqah dari sisi yang benar–mereka mengambil dari nama ajarannya, tetapi belum mengambil rahasia darinya.   Awliya berusaha untuk mendapat rahasia dari setiap kata yang mereka ucapkan, untuk dicurahkan ke dalam hati kalian!


Kemudian ia bertanya, “Bagaiama tentang orang yang telah mencapai alam semesta dan tujuh langit dalam sekejap tanpa berpindah dari posisinya, dan ia dapat berada di segala tempat yang Allah ciptakan?  Dapatkah aku belajar darinya dan mengambil tariqah?” Bagaimana menurut kalian, apa yang Sayyidina Abdul-Khaliq قدس سرّه katakan, ya atau tidak? Beliau berkata, “Tidak!”  Jadi, lalu dari mana ia dapat mengambil tariqah?!!  Kemudian Syekh Abdur-Rahiim Maghribi tidak mempunyai kata-kata lagi, dan ia bertanya kepada Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه, “Lalu kepada siapa aku akan menyerahkan diriku sendiri?  Siapa orang itu?”

Sebelum sampai di sana, ia tidak menyerahkan dirinya.  Ia terus mengajukan pertanyaan, menunjukkan bahwa ia mengetahui sesuatu, dengan bertanya, “Dapatkah aku mengambil tariqah dari orang yang bisa menjangkau orang mati, atau dari orang yang mengetahui tasbih seluruh ciptaan kepada Allah?” Ia memuji egonya di sana.  Ketika ia bertanya, “Dapatkah aku mengambil dari orang yang bertasbih di bawah Arasy?” Ia memperlihatkan bahwa ia tahu semua level yang beragam dari awliya.  Ketika Sayyidina Abdul-Khaliq قدس سرّه mengatakan kepadanya, “tidak”, barulah ia menyerah. Ia sampai pada titik di mana ia sadar, “Ya Sayyidii, aku tidak tahu.”  Melalui pelajaran itu, Sayyidina Abdul-Khaliq قدس سرّه mengajarkan kepadanya, “Jangan tunjukkan pengetahuanmu di hadapanku.”  Banyak orang yang bicara terus; mereka senang menunjukkan bahwa mereka tahu segala hal, dalam kehidupan normal atau kehidupan spiritual.  Kita semua berusaha untuk mengatakan bahwa kita tahu sesuatu.  Dalam kehidupan normal, hal itu tidak masalah, tetapi lebih baik diam dalam hadirat seorang wali. Jangan bicara!  Jika kalian bicara, kalian membuat suatu kesalahan.  Jika tidak bicara, kalian aman.

Orang yang memberi presentasi senang untuk menunjukkan diri sendiri; mereka tidak berserah diri. Mereka bertanya, “Apakah kalian suka membuat presentasi?” dan mereka berlomba-lomba untuk itu, agar mendapat ketenaran.  Jika kalian bertanya pada awliyaullah, “Apakah engkau ingin membuat presentasi atau sebuah wawancara?” mereka akan menjawab “tidak.”  Mereka tidak suka (bicara) kecuali terpaksa.  Jadi Syekh Abdur-Rahiim Maghribi bertanya.  “Apa yang akan kulakukan sekarang?  Aku berusaha untuk mengerahkan semua pengetahuanku untuk mengetahuinya.”  

Seperti halnya insiden dengan Syekh Ahmad al-Badawi dari Mesir.  Kalian tahu ceritanya.  Ia berdoa, “Bukalah Pintu-Mu, ya Rabbii!” dan seseorang datang dan berkata, “Aku mempunyai kunci-kuncimu, berserahdirilah padaku.”  Ia menjawab, “Memangnya siapa aku musti berserah diri padamu?!”  Berserah diri kepada Allah, OK, tetapi ada disiplinnya: pertama (berserah diri dulu) kepada guru, lalu kepada Nabi (s) dan kemudian kepada Allah .  Jadi ia menjawab, “Aku hanya akan mengambil kunci dari Sang Pembuat Kunci langsung!”  Lalu orang itu pergi dan Ahmad al-Badawi mendengar sebuah suara, “Apakah kau menginginkan kuncimu? Aku meninggalkannya pada seorang wali yang baru saja kau usir!”

Jadi sekarang ia tahu bahwa ia harus mengambilnya dari orang itu, tetapi egonya menghalanginya.  Sayyidina Ahmad al-Badawi mencari wali itu, ia berlari, berlari, berlari selama enam bulan, dan itu mengajarkannya bersabar.  Akhirnya wali itu muncul di hadapannya.

Sayyidina Ahmad al-Badawi berkata, “Wahai saudaraku!  Dari mana saja engkau?”

Wali itu menjawab, “Aku di sini, tetapi kau tidak bisa melihatku.”

“Bisakah aku mendapatkan kunci-kunciku?”

“Tidak, sudah terlambat wahai saudaraku.  Ketika aku datang dan menawarkannya kepadamu, kau menolak.  Sekarang kau menginginkannya, tetapi aku tidak akan memberikannya; ada harga untuk itu.”

Sayyidina Ahmad al-Badawi berkata, “Aku akan membayarnya dengan seluruh kekayaanku, rumahku.”

“Kami tidak mengejar harta duniamu.”

“Lalu apa yang harus kuberikan?”

“Aku menginginkan ilmumu, semua ilmu yang telah kau ajarkan dan yang telah kau pelajari dari buku-buku dan amal ibadah yang telah kau lakukan, (katakan) ‘Aku bersedia, aku bersedia, aku bersedia.’  Kau selalu egois dan membandingkan segala sesuatu dengan dirimu.  Aku menginginkan keegoisan itu, egois dalam ilmu yang telah membangun egomu.”


Allah berfirman di dalam Alquran suci:

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىَ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Afaman assasa bunyaanahu `ala taqwa mina Allahi wa ridwaanin khayrun am man assasa bunyaanahu `ala syafaa jurufin haarin fanhara bihi fii naari jahannama w’Allahu laa yahdi ’l-qawma azh-zhaalimiin

Lalu manakah yang terbaik? – orang-orang yang mendirikan masjidnya atas dasar taqwa kepada Allah dan rida-Nya? – atau orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersamanya ke neraka Jahanam.  Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Suratu ’t-Tawbah [9:109]

Di tepi jurang itu akan jatuh ke neraka.  Itu artinya kalian tidak dapat membangun ilmu kalian pada ego, karena ego akan dipotong bila kalian berada dalam tariqah karena ego akan runtuh cepat atau lambat.  Jadi (wali itu berkata padanya) “Aku tidak dapat membiarkan kau memiliki ilmu ini.” Ahmad al-Badawi merupakan Grand mufti di Tanta, daerah di Mesir, sangat terkenal, dan dua juta orang mengunjungi makamnya setiap tahun.

Wali itu berkata, “Berikan ilmu itu kepadaku.”

Ahmad al-Badawi berkata, “OK.”

Jadi ia melihat ke dalam mata wali itu dan wali itu menarik semuanya keluar, bagaikan magnet menarik logam.  Ia meninggalkan Ahmad al-Badawi tanpa mengetahui apa pun, bahkan satu kata pun, bahkan untuk membaca Surat al-Fatiha!  Bila kalian melakukan kesalahan dalam membaca Surat al-Fatiha, itu artinya awliya mengambil pengetahuan itu.  Jadi ia menarik segala sesuatu dari Ahmad al-Badawi sampai ia tidak mengetahui apa-apa, hingga anak-anak mengejar mereka, mengejeknya dengan berkata, “Dia tidak tahu apa-apa!”

Jika kalian kehilangan akal kalian, kalian akan baik-baik saja.  Setiap orang di seluruh dunia berpikir bahwa mereka mengetahui sesuatu.  Lihatlah, ketika Mawlana Syekh, semoga Allah memanjangkan umurnya, memberikan nasihat harian melalui siaran langsung di sufilive.com, orang-orang juga senang untuk mendengarkan.  Mereka menghentikan pekerjaan mereka, menghentikan semuanya hanya untuk mendengar.  Mengapa?  Karena pesan beliau mencapai hati mereka dan mereka telah siap dalam menerima informasi itu.  Dan setiap orang begitu gembiranya dan memuji Mawlana dengan pujian yang tinggi karena kecintaan mereka terhadapnya, karena mereka tahu tanpa beliau mereka bukanlah apa-apa!  Jadi mereka yang menyaksikannya sungguh beruntung.  Bagi yang tidak menyaksikan; jika mereka mempunyai alasan seperti karena pekerjaannya, itu tidak apa-apa.  Tetapi yang lainnya (tidak menyaksikan) karena sombong dengan diri mereka.  Menurut kalian, memangnya kalian siapa?  Apakah Mawlana membuang-buang waktunya untuk siaran itu?!!  Berikanlah paling tidak setengah jam dari waktu duniawi kalian untuk melihat dan mendengar, itu lebih baik.  


Jadi dalam setiap hal, wali itu mengambil segala sesuatu dari Sayyidina Ahmad al-Badawi dan meninggalkannya selama enam bulan, dan anak-anak mengejar mereka sambil berkata, “Grand mufti kita menjadi gila!”  Dan ia mencari wali itu, mencari dan mencari, sementara wali itu menyembunyikan dirinya lagi.

Kemudian ia muncul dan berkata, “Ya Ahmad!  Apakah engkau siap?”

Ia menjawab, “Aku siap.”


(Itu setelah perjuangan yang panjang.)  Ia mendengar suara yang mengatakan, “Ambil kunci itu darinya.”  Jika ia menerimanya sejak awal, ia pasti telah mencapai level yang lebih tinggi lagi!

Wali itu berkata, “Lihatlah mataku sekarang.”  Lalu ia mencurahkan apa yang ada di dalam hatinya ke dalam mata Ahmad al-Badawi sampai ia tidak bisa melihat lagi, hingga matanya bagaikan kilat, dan wali itu membukakan Enam Realitas dari Hati, yang sebelumnya telah kita bicarakan berulang kali: Realitas Daya Tarik (Haqiqatu ’l-jazbah); Realitas Mengantarkan Berkah (Haqiqatu ’l-fayd); Realitas Memfokuskan (Haqiqatu ’t-tawajjuh); Realitas Perantaraan (Haqiqatu ’t-tawassul); Realitas Bimbingan (Haqiqatu ’l-irshad); dan, Realitas Menggulung (Haqiqatu ’t-tayy). Setelah itu, tak seorang pun dapat melihat ke dalam mata Ahmad al-Badawi, mereka akan pingsan bila melihatnya.  Jadi pada akhirnya ia berserah diri.


Abdur-Rahiim al-Maghribi paham bahwa setiap pertanyaan yang ia ajukan, Syekhnya selalu mengatakan “tidak”.  Segala sesuatu yang ia tanyakan, Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه menjawabnya “tidak” untuk setiap pertanyaan.  Ia mengajukan lima pertanyaan, dan semuanya ditolak.  Lalu ia berkata, “Ya Sayyidii, ke mana aku harus memasrahkan diriku?”  Ia lalu mengerti, dan kemudian menjadi pasrah.  Di luar itu, tak ada yang dapat dicapai; jika kalian tidak berserah diri kepada kehendak syekh, kalian tidak bisa melangkah ke mana-mana atau mencapai sesuatu. 


Misalnya, setiap hari Mawlana Syekh memberikan pelajaran dan banyak orang yang menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa, dan jika kalian mendengar, itu saja sudah cukup; jika kalian mengerti atau tidak, rahasianya terpancar ke dalam hati kalian!  Seperti halnya ketika komputer sedang mengambil, memuat (upload) informasi, kalian melihat garis-garis hijau (menunjukkan progres dari proses upload yang sedang berjalan) atau kalian menulis pesan atau gambar atau suatu lampiran, dan ketika kalian membukanya, lambat laun ia terbuka.  Tetapi di lain waktu kalian ingin melihatnya lagi, dengan cepat ia terbuka, tidak memerlukan waktu lama.  Sama halnya, Mawlana Syekh mengisi kalian dengan cahaya ini; kalian mungkin tidak memahaminya, tetapi ketika waktunya tiba untuk dibuka, ia sudah berada di sana (pada diri kalian).  Kalian akan bergerak seperti roket menuju level yang mereka ingin kalian capai.  Sekarang kalian belum bisa diangkat; kalian mungkin mendengar sebuah suhbah dan melupakannya, tetapi hati kalian tidak melupakannya, dan hati kalian telah mengunduh (download) informasi itu. Kalian telah mengunduhnya dan dalam waktu satu detik, kalian dapat mengecek dan melihatnya.


Ketika saat mengunduh tiba dan syekh memberi kalian kunci kalian, itu akan membuka seluruh kata-kata bercahaya, rahasia ilmu yang beliau telah sampaikan sebelumnya, dan kalian dapat melihat dari level mana beliau berkata, di mana beliau berdiri, dan mengucapkan salam kepada Nabi (s) dan mengucapkan syahadah.


Dari mana beliau berdiri? Di mana? Apakah Mawlana Syekh berdiri di Lefke, di samping kursinya?  Ketika beliau berdiri mengucapkan salam kepada Nabi (s), beliau berdiri di Hadirat Ilahiah dari Nabi (s)!!!  Dan ketika waktunya tiba, kalian akan melihatnya, apa yang telah kalian dengar dari beliau akan tampak sebagai Realitas.

Itu akan muncul ketika kalian berserah diri, tetapi sekarang kita tidak berserah diri.  Bahkan kalian melihat orang-orang melakukan chatting.  Mengapa mereka melakukan hal itu ketika Mawlana Syekh sedang bicara?  Lakukan chatting sebelum atau setelahnya.


Bila kalian berserah diri, maka komputer kalian akan siap untuk menerima semua informasi yang dimasukkan (upload) ke dalam hati kalian.  

 
Syekh Abdur-Rahiim al-Maghribi berkata, madha afal, “Aku berserah diri.  Apa yang harus kulakukan; aku perlu jawaban.  Aku datang kepadamu untuk berserah diri.  Kepada wali yang manaaku harus berserah diri?” Ia masih melakukan kesalahan, karena ia belum menyadari: wali yang kau bicarakan adalah yang bertanggung jawab atas dirimu!  Dengan mengatakan, “Wali yang mana,” lebih baik menjadi seorang pengembala dari pada biri-birinya.  Kau menanyakan semua pertanyaan ini dan beliau terus mengatakan “tidak”, dan di saat akhir, ia masih bertanya, “Wali yang mana?” Banyak orang seperti itu.  Kalian tidak merasa senang dengan wali yang kalian bicarakan itu?  

Kita akan melanjutkannya besok, insyaAllah. Bi hurmati l-Habiib, bi hurmati ‘l-Fatiha.

Pada akhirnya Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani bertanya kepada Syekh Abdur-Rahim al-Maghribi dan beliau menyerah, meski egonya belum tunduk sepenuhnya.

Maka ia bertanya, “Wahai tuanku! Dari siapakah kami dapat mengambil tarekat ini ?”

Sebagaimana yang telah kami jelaskan dalam 3 sesi sebelumnya, sekarang ia memahami bahwa ilmunya tidak bermanfaat baginya. Apa yang ia tanyakan dan katakan, tidak akan bermanfaat baginya. Akhirnya ia harus tunduk kepada Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه, seraya berkata, ” Ya Sayyidii ! Dari mana kita mengambil tarekat?”

Beliau bersabda, ” Tariqah itu hanya bisa diambil dari wali yang telah bersama kalian pada Hari Perjanjian ketika Allah SWT bertanya kepada ruh-ruh yang berkumpul, “Siapakah kalian dan siapakah Aku?” Hanya wali itulah yang bisa membawa kalian kepada janji-janji kalian, keimanan , yang telah kalian ikrarkan untuk dipenuhi pada Hari itu.

Jadi seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, ada empat tingkatan syekh pembimbing: Murshid at-Tabarruk, Murshid at-Tasifiyya, Murshid at-Tazkiyyah dan Murshid at-Tarbiyyah. Syekh at-Tabbaruk tidak dapat menuangkan hakikat tarekat ke dalam hati Anda. Itu berarti memahami rahasia segala sesuatu yang telah diciptakan Allah.

Lalu apa manfaat mengambil tarekat dari seorang syekh seperti itu?

وَمَن كَانَ فِي هَـذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِي

Wa man kaana fii haadhihi  `aama fa-huwa fi’l-akhirati `aama wa adalloo sabeela .

Karena barangsiapa yang buta hatinya di dunia ini, maka ia akan buta pula di akhirat nanti dan akan semakin tersesat dari jalan kebenaran. [17:72]

Anda tidak mempelajarinya.

(Itu) berarti dia tidak bisa menemukan kebenaran sehingga dia akan buta sepenuhnya, dia tidak akan bisa merasakan madu, mungkin dia merasakan gula. Itu tetap rasa, tetapi itu gula. Ada perbedaan besar antara madu dan gula. Orang menggunakan gula dalam teh dan kopi tetapi orang pintar menggunakan madu.

Kamu mau gula atau madu? (madu) insya – Allah.

Jadi wali yang tidak memiliki keterangan ini tidak dapat membawa muridnya ke tujuan. Tujuannya adalah ilahi anta maqsoudi wa ridaaka matlubi.

Tujuannya, apakah itu (maqsoodi) tujuan?  (Kata itu) tidak terlihat bagus. (Artinya) “Engkaulah yang aku cari Hadirat Ilahi-Mu. Jangan biarkan aku pergi dari pintu-Mu.” ” Wa ridaaka matloobee – dan yang aku inginkan adalah agar Engkau bahagia bersamaku, agar Engkau merasa puas denganku.”

Apakah Allah tersenyum, tertawa? (tidak ada jawaban) Ya atau tidak?

Apakah Allah tertawa? Ya atau tidak? (Ya.) Ok, apa buktinya?

Rai’atu rabbi’i daahikan. Aku melihat Tuhanku datang kepadaku sambil tertawa.” Itulah sebabnya ketika Maulana bertanya kepada Syaikh Tahir al-Qadri tentang hal itu, beliau menjawab, “Ya.” Karena ada dalilnya dalam hadits Nabi (saw) tersebut.

Kalau tidak ada bukti maka akan ada tanda tanya.

Apakah Allah menangis? Lawan dari tertawa? Apakah Dia menangis? Tidak. Karena tidak ada bukti bahwa Allah menangis. Karena Allah tidak menangis karena tidak ada yang dapat menyakiti-Nya.

Jadi Allah tidak menangis.  Hanya Allah yang tersenyum. Jadi seseorang yang tertawa dan tersenyum – apakah Dia akan membenci? Jika Allah tidak membenci siapa pun, menurut Anda apa yang akan terjadi pada manusia?

Mereka akan dimaafkan.

“Ya Muhammad, sesungguhnya Aku telah memberimu umat yang tidak pernah jemu berbuat dosa, dan Aku adalah Tuhan mereka, yang tidak pernah jemu mengampuni dosa-dosa mereka.”

Jika Allah tidak melihat keburukan manusia…apakah Anda suka menonton hal-hal yang kotor? Mungkin Anda suka.

Apakah Anda suka? Tidak. Tidak ada yang suka menonton sesuatu yang kotor, terutama orang tua. Semoga Allah memberi kita kesehatan dan Sayyidina Muhammad (saw) berkata, “Ya Allah, selamatkan umatku dari kematian mendadak.” Kematian mendadak , mawtu fuja’ah . Kematian mendadak karena terlalu berat bagi keluarga dan terlalu berat bagi orang tersebut. Beliau (saw) berkata, “Kematian terbaik adalah yang mudah dan di tempat tidur.”

Ya Allah berikanlah kepada kami, dengan kesehatan dan ketika Engkau menghendaki ruh hamba-Mu kembali, ambillah dengan cara yang paling mudah dan sederhana.

Jadi Allah swt tidak menyakiti. Allah selalu senang. Jadi Anda tidak melihat kekotoran orang-orang. Orang tua di panti jompo membuat masalah bagi diri mereka sendiri. Apakah Anda pikir para perawat senang melihat kekotoran itu?

Jadi apa pendapatmu tentang Allah swt? Dia akan melihat keburukan dan kekotoran kita? Tidak, Dia melihat kebaikan kita.

Maka Abdul Khaliq Al Ghujdawani قدس سرّه, semoga Allah memberkahi ruhnya, berkata kepadanya, “Orang yang berada di Hadirat Ilahi telah mencapai kemampuan untuk melihat sampai ke Hari Perjanjian dan melihat apa saja yang telah dijanjikan Allah SWT untuk dilakukan oleh setiap orang di dunia.”

Dan Allah membagi seluruh kumpulan itu menjadi awliya – masing-masing (dari mereka) mengambil sekelompok orang untuk membersihkan mereka dan mengembalikan mereka dalam keadaan bersih sebagaimana mereka telah diberikan kepadanya, sebagaimana di Hadirat Ilahi setiap orang bersih tanpa ada kekotoran pada dirinya. Ketika kami datang ke dunia, kami menjadi kotor.

“Maka wali yang berada di Hadirat Ilahi telah diberi kewenangan untuk meneliti hal tersebut, kewenangan tersebut telah diberikan.”

Wewenang seperti kapten terhadap prajuritnya. Itu berarti dia harus bertanggung jawab atas orang-orang yang berada di bawah kendalinya. Kapten tidak dapat membiarkan salah satu prajuritnya ditangkap.  Dia akan melakukan yang terbaik, jika ada yang ditangkap untuk menghabisinya.

Seorang wali tidak akan membiarkan, dengan wewenang Nabi yang diberikan kepadanya dan wewenang Allah yang telah diberikan kepadanya, membiarkan Setan mengambil salah seorang muridnya. Jika dia tidak dapat mencapai tingkat itu, lebih baik dia minggir. Mereka yang tidak memiliki wewenang itu, lebih baik mengatakan kepada murid-muridnya, “Saya seperti kalian. Kita semua berada di bawah panji Syaikh kita.”

Wahai manusia! Wahai murid-murid Maulana Syaikh! Jika Maulana, setiap kali duduk untuk berbicara, berkata dan mengakui, “Aku adalah hamba yang lemah,” lalu bagaimana kalian mengakui bahwa kalian adalah seorang Syaikh?

Kemarin dia berkata, “Kewenangan telah diberikan kepada Qutb, bahwa Allah swt memberikan kesempatan terakhir kepada manusia. Jika mereka tidak bertobat, mereka yang tidak bertobat akan menderita,” dan ini adalah pernyataan yang datang kepadanya dari Qutb. Dia tidak mengatakan, “Saya adalah Qutb.”   Dia mampu mengatakan itu. Mengapa dia tidak mengatakannya?

Ada dua makna di sini. Mengapa dia tidak mengatakannya?

Salah satunya adalah dia tidak ingin egonya (mengklaim sesuatu), awliyaullah mereka tahu diri mereka sendiri. Saya tidak akan menjelaskan tentang Maulana. Dia tidak ingin bangga dengan apa yang telah diberikan kepadanya, tetapi ingin menunjukkan kerendahan hati.

Sebagai Nabi, dan awliyaullah, mereka mewarisi dari Nabi (saw), sebagaimana yang beliau katakan, “Aku hanyalah seorang manusia seperti kalian.” Itulah Nabi (saw). Nabi (saw) berkata – Allah berfirman kepadanya dalam Al-Quran Suci, “Katakan kepada mereka: Aku hanyalah seorang manusia seperti kalian.”

Nabi menunjukkan kerendahan hati, “tetapi, yuhaa ilayya – itu diwahyukan kepadaku.”

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ

Qul: Innama ana basharun mithlukum yuhaa ilayya . Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, (tetapi) wahyu telah datang kepadaku…..” [QS. Al-Kahfi, 18:110]

” Katakanlah, wahai Muhammad! Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba seperti engkau. Akan tetapi, aku menerima wahyu.”

Oh! ” Saya menerima wahyu” itu mengubah seluruh pokok bahasan. Tetapi orang-orang yang berpikiran sempit dan bodoh tidak dapat memahaminya.

Allah berfirman kepadanya (untuk mengatakan) “Aku adalah manusia tetapi diwahyukan kepadaku.” Ketika kamu menunjukkan kerendahan hati maka Allah menampakkan kepadamu. Namun (dalam) “yuhaa ilayya – diwahyukan kepadaku” siapa yang berbicara kepadanya? Allah berbicara kepadanya, dengan mengutus utusan-Nya Jibril kepadanya.

Jadi siapa yang bisa memiliki kekhususan ini? Tidak seorang pun.

Maka laa tansab li nafsika ayyi shayy – jangan mengklaim apa pun pada diri Anda sendiri. Jika Anda mengklaim, Anda kalah. Itulah sebabnya awliya selalu berbicara secara abstrak, dameer , menggunakan kata ganti, “mereka” atau “dia” atau “dia”. Mereka tidak pernah mengatakan “saya”. “Saya” adalah keegoisan (artinya:), saya, saya.

Orang-orang selalu berkata, “Saya melakukan ini; saya melakukan ini.”  Awliyaullah tidak pernah mengatakan “saya”. Mereka mengatakan “mereka”. Siapakah “mereka”? Orang yang duduk di sana. Dia berkata, “Qutb yang mengirim deklarasi ini.” Siapakah Qutb? Dia adalah Sultan! Qutb berada di bawahnya.  

Makna kedua adalah ia ingin memberi tahu mereka yang mengerti, bahwa perintah telah disampaikan darinya kepada Qutb. Sultan memberikan perintah dan Qutb melaksanakan perintah tersebut.  Itulah sebabnya ia merujuknya kepada Qutb, ia tidak merujuknya kepada dirinya sendiri.

Kamu mendengarnya kemarin. Apakah kamu memahaminya seperti itu? (tidak) Kamu menceritakannya kepadaku.

Maka dia berkata, “Ini adalah pernyataan surgawi dari Qutb yang menyatakan hal itu.”

Maulana, ada lima qutb . Yang mana yang dimaksud beliau? Beliau tidak ingin mengatakan “aku”, jadi beliau membiarkannya.

(Lima qutb tersebut adalah:) Qutb, Qutb al-Aqtaab, Qutb al-Bilaad, Qutb al-Irshad, Qutb al-Mutassarif.

Yang pasti itu adalah Qutb al-Mutassarif. Dialah sang Ghawth, yang menerima perintah dari Nabi (saw) dan menyampaikannya kepada salah seorang qutb tersebut, dan yang pasti itu adalah Qutb al-Mutassarif, dan pernyataan itu datang dari Qutb.

Ia menyembunyikan dirinya sepenuhnya. Jadi awliyaullah tidak suka menampakkan diri dan berkata “kami melakukan ini” atau “kami melakukan itu.”

Jadi kita harus benar-benar mengingat hal ini, daqeeqeen – khusus atau tepat dalam cara kita mengekspresikan diri kepada pendengar.

Mereka yang menjadi syekh, atau yang menganggap dirinya sebagai syekh, siapa pun mereka, harus sangat teliti dan cermat dalam apa yang mereka katakan.

Jika Maulana berkata, “Aku lemah dan paling lemah”, itu berarti “Aku yang tertinggi.” Dia tidak bisa mengatakan “Aku yang tertinggi.” Dia harus mengatakan, “Aku yang paling lemah.”

Jadi jika Maulana lemah, di manakah sisanya? Mereka minus, di bawah nol.

Jadi jika Anda menjadikan diri Anda seorang syekh, Anda bertanggung jawab. Lebih baik menjadi domba. Jangan menjadi penggembala.

Jadi Abdur-Raheem al-Maghribi datang kepada Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه untuk menjadi seorang syekh. Dan dia berkata kepadanya, “Tidak! Kamu tidak tahu.” Dia datang sambil berkata, “Aku tahu.”

Jika sejak awal dia datang dan berkata, “Aku datang untuk menyerahkan diriku kepada wali yang dapat menggendongku.”

Sebaliknya ia mulai menunjukkan pengetahuan yang berbeda dengan mengajukan pertanyaan yang berbeda.

Nabi (saw) tidak pernah menunjukkan ilmunya. Beliau selalu menunggu wahyu . Bahkan dengan kisah Sayyida Aisyah. Beliau menunggu selama satu bulan hingga turun wahyu (yang memberi tahu orang-orang) bahwa “dia adalah wanita terbaik, wanita yang paling mulia.”

Jadi, saat kamu diam dan tidak membuat keributan, mereka senang padamu. Saat kamu ingin menunjukkan pengetahuanmu, mereka tidak senang padamu.

Oleh karena itu, laa tansab ayyi shayin li nafsik – janganlah menganggap sesuatu sebagai milikmu. Buatlah syekhmu bahagia denganmu.

Pada masa Grandsyekh, beliau biasa membuka ceramah selama satu atau dua jam. Ketika Grandsyekh mulai berbicara, beliau melanjutkan ceramahnya hingga Maulana Syekh mulai mengangkat tangannya dan mengucapkan “amiin”.

Maulana Syaikh mengalir tiada henti bagaikan sungai; bagaikan air terjun dan orang-orang menjadi lelah. Kemudian Maulana Syaikh mulai mengangkat tangannya (berdoa ) dan ketika Grandsyekh melihatnya, ia berkata, “ wa min Allahi ‘t-tawfeeq, bi-hurmati ‘l-Fatiha.”

Jadi, ketika syekh selesai berbicara, buatlah dia senang. Saya biasa melihat Maulana ketika Grandsyekh selesai berbicara, dia biasa berkata, “Hari ini masya Allah, Engkau menempatkan kami di lautan yang luas!  Kami menyelam di lautan itu” dan Grandsyekh biasa tertawa, senang.

Hari ini Anda lihat ketika dia menyelesaikan siaran langsungnya? Terkadang kita beruntung bisa meneleponnya dan berkata, “Wahai Maulana! Anda menempatkan kami di lautan yang luas.” Dia berkata, “Masya Allah apa yang saya katakan? Orang-orang senang? Berapa banyak orang?” “Wahai Maulana, satu juta.” “Baiklah, itu bagus.”

Buatlah awliyaullah bahagia. Allah sedang tersenyum. Allah tidak menyukai orang yang suka marah-marah, selalu terlihat serius dan marah – seperti saya. Allah menyukai orang yang sangat ceria, tertawa, dan tersenyum.

Apa yang harus kami lakukan? Kami mencoba mengolok-olok orang untuk membuat mereka tertawa, membuat mereka bahagia. Terutama Anda (Ali El-Sayyid dipilih).

Jadi Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه, di akhir, beliau menjelaskan kepadanya sebagaimana kami menjelaskan pentingnya mengetahui setiap detail tentang muridnya di Hari Perjanjian, yaitu wali yang mengetahui setiap detail dan mengetahui apa yang telah Anda janjikan. Orang itu dapat Anda ambil tarekatnya .

Abdur Raheem al-Maghribi, seakan-akan dia tidak mengerti apa-apa (berkata), “Di mana saya bisa menemukannya?” Bahkan setelah dia menjelaskan semua hal ini kepada Anda, Anda masih bertanya “di mana saya bisa menemukannya?”

Maka apa yang ditanyakan kepadanya, “Di mana saya bisa menemukannya?” Ia berkata, “Wahai anakku. Engkau telah duduk bersama kami selama tujuh tahun.” Ia menghabiskan sembilan tahun di bawah ajaran Sayyidina Khidr dan kemudian tujuh tahun lagi bersama Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه dan ia tidak tahu siapa syekh itu.

Ulama seperti itu sombong. Mereka tidak mau tunduk. Itu sangat sulit.  Ketika empat musuh dalam diri Anda, nafs, dunia, hawa, setan – ego, kesenangan dunia, hawa nafsu, sedang mempermainkan Anda; cinta dunia sedang mempermainkan Anda.

Itulah sebabnya sangat sulit untuk berserah diri. Itulah sebabnya setan masuk ke dalam suami atau istri untuk memisahkan mereka.

Jadi, katanya, “Anda telah duduk di rumah ini selama tujuh tahun, duduk. Namun jika Anda ingin mengetahui siapa orang itu, ketika orang-orang datang, lihatlah dengan siapa mereka berhubungan.”

Jadi dia tidak menyerah dan dia menunggu untuk melihat kepada siapa orang-orang terhubung.

Para murid datang dan berkata, “ Ya Sayyidi , lingkaran itu telah selesai. Kami perlu memperbarui bay’at kami denganmu.”

Kemudian dia memahami bahwa Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdawani قدس سرّه adalah orang itu. Bila Anda menemukan orang itu, maka Anda menemukan buahnya.

Kemudian dia mengambil baiat dan kemudian dengan suhbat yang diberikan kepadanya, dia mempersiapkannya. Dia memberinya baiat dan kemudian membawanya jauh-jauh untuk mengetahui apa saja kewajibannya setiap hari, dengan melihat pada Loh-loh yang Diawetkan.

Itulah sebabnya Grandsyekh berkata, di masa Sayyidina al-Mahdi, beliau akan menghubungkan setiap orang dengan Loh-loh yang Diawetkan, kemudian setiap `amal al-yawm – sebagaimana kami menyebutnya, bagan harian, Prosedur Operasional Standar harian, SOP, jadi mereka punya SOP di dalam Loh-loh yang Diawetkan.

Semua orang melihat ke sana, apa saja hal-hal yang harus mereka lakukan sehari-hari. (Pada waktu itu), itu untuk semua orang.

Para sahabat biasa mengambil langsung dari Nabi. Dan para murid harus menghubungi para syuyukh mereka yang memiliki izin untuk melihat Loh-loh yang Diawetkan  dan mereka menghubungi murid-murid mereka untuk mendapatkan Prosedur Operasional Standar mereka, dan mereka mengikutinya.

Jadi awliyaullah yang diperintahkan untuk pergi dari timur ke barat untuk mencari orang,  mendukung mereka, dan memberi mereka shuhbat dan ceramah, mereka akan jauh dari syuyukh mereka. Jadi syuyukh mereka memberi mereka wewenang untuk menghubungkan orang dengan syekh mereka, yaitu Maulana Syekh, dan mereka akan dapat mengikuti SOP mereka.

Maka dia diutus dengan itu, lalu dia pergi mengajar, dan dia sudah pada tingkat musta’id- siap . Jadi dia bahkan belum menjadi seorang syekh, dia adalah seorang murid .

Kita menyebut setiap orang sebagai murid . Namun sebenarnya mereka berada pada level pecinta, bukan murid . Insya-Allah suatu hari nanti kita akan menjadi muridnya.

Ini sangat penting. Beliau bersabda bahwa “Jika seseorang telah dipilih menjadi murid dari wali tertentu yang memiliki pengetahuan tentang apa yang terjadi di Hadirat Ilahi dan murid tersebut pergi ke orang lain – ke wali lain – bahkan jika wali tersebut memiliki otoritas Hadirat Ilahi dan ia mengetahui apa yang terjadi di sana, jika ia memberikan ajaran kepada murid tersebut , ajaran tersebut akan berdampak negatif pada murid tersebut .”

Murid itu harus mengambil dari syekhnya sendiri; bukan dari syekh tirinya. Itu seperti ayah tiri.

Itulah masalah besar yang membuat orang-orang terjerumus ke dalamnya. Terlalu banyak yang mengaku sebagai syekh dan orang-orang kehilangan hubungan mereka dengan berbaiat dan melupakan ayah spiritual mereka yang asli.

Kecuali jika mereka telah diberi tahu bahwa yang asli adalah yang itu, maka tidak apa-apa. Namun jika yang lain itu, meskipun dia seorang wali, Anda tidak boleh mendatangi seseorang yang tidak mengemban tanggung jawab Anda.

Ketika Maulana Syaikh Nazim masih muda dan belajar di Istanbul, lalu ia pergi dan menempuh Jalan Allah, ia biasa pergi ke Masjid Sultan Ahmed, sebuah masjid yang sangat besar, Masjid Biru, dekat Topkapi, istana Ottoman. Di sana ia bertemu Syaikh Jamaluddin al-Alusei dan ia berkata, “Saya ingin mengambil baiat.” Ia berkata, “Saya tidak memikul tanggung jawab itu. Anda bukanlah orang yang di Hadirat Ilahi saya memikul hassa Anda – bagian Anda. Syaikh Anda tidak ada di sini. Ia ada di Damaskus.  Pergilah ke sana.

Dia tidak berkata, “Datanglah! Aku memberimu bay’at.” Dia mampu melakukannya, tetapi itu menjadi hal yang negatif baginya. Dia berkata, “Syekhmu tidak ada di sini, syekhmu ada di Damaskus.”

Dan saat itu sedang terjadi Perang Dunia Kedua dan Prancis dan Inggris ada di sana dan mereka saling membombardir antara Prancis dan Inggris.   Meskipun begitu, dia tetap pergi ke sana.

Ada wali yang mengetahui siapa murid siapa dan mereka menghindari tanggung jawab untuk mengambil murid orang lain. Itu adalah kecurangan.

Ada awliya yang setingkat dengan Syaikh at-Tabarruk, Syaikh at-Tasfiyya, dan Syaikh at-Tazkiyya, tetapi masih ada ego dan mereka suka mengambil lebih banyak murid. Itu bukan pemenuhan tanggung jawab itu.

Dan dia berkata, “Kepercayaanmu bukan padaku, melainkan pada saudaraku di Damaskus.”

Maka Maulana pun pergi jauh-jauh dan sampai di alun-alun Midan dan di sana ia bertemu Grandsyekh dan semoga Allah memberkahi jiwanya dan menganugerahi Maulana Syekh umur panjang. Dan kisah itu kami tulis dalam Tarekat Sufi Naqshbandi, Anda dapat membacanya di sana.

Jadi dengan ini, keempat asosiasi ini selesai. Besok ada hal lain.

Taqaball-Allah.

Sumber dari suhbah Mawlana Syeikh Hisyam di sufilive.com

  • Related Posts

    Mengapa kita perlu Bertarikat

    MENGAPA KITA BERTAREKAT? Bagian dari manusia yang akan kembali ke pangkuan Allah SWT, adalah Roh manusia. Oleh sebab itu, di dunia Roh harus selalu dilatih munajat untuk sampai dan selalu…

    Syari’at, Thariqat, Haqiqat

    Inilah jalan penghidup keyakinan syari’at, thariqat, haqiqat menuju kemuliaan dengarlah yang tersirat dalam gambaran yang tersurat dalam bisikan. Inilah gambaran dari jalan menuju akhirat, yakni melalui syari’at, thariqat dan haqiqat.…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    Dari siapa kita bisa mengambil tarekat?

    • By admin
    • Agustus 19, 2025
    • 222 views

    Mengapa kita perlu Bertarikat

    • By admin
    • Agustus 17, 2025
    • 184 views
    Mengapa kita perlu Bertarikat

    Pentingnya Mursyid dalam Tarekat

    • By
    • Januari 9, 2025
    • 228 views
    Pentingnya Mursyid dalam Tarekat

    Penyembuhan Spiritual

    • By
    • Januari 9, 2025
    • 169 views
    Penyembuhan Spiritual

    Syari’at, Thariqat, Haqiqat

    • By
    • Januari 9, 2025
    • 167 views
    Syari’at, Thariqat, Haqiqat

    Disiplin/Adab Tarekat

    • By
    • Januari 9, 2025
    • 244 views
    Disiplin/Adab Tarekat