{"id":62,"date":"2025-01-09T06:40:29","date_gmt":"2025-01-09T06:40:29","guid":{"rendered":"https:\/\/newsmagazinexpro.kinsta.cloud\/demo\/?p=62"},"modified":"2025-08-18T10:32:32","modified_gmt":"2025-08-18T10:32:32","slug":"what-the-new-trade-deal-really-means-for-small-and-local-businesses","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/2025\/01\/09\/what-the-new-trade-deal-really-means-for-small-and-local-businesses\/","title":{"rendered":"Mata Rantai Emas Thariqat Naqsybandi"},"content":{"rendered":"\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mata Rantai Emas Thariqat Naqsybandi<\/h3>\n\n\n\n<p>Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani<\/p>\n\n\n\n<p>dalam Mercy Oceans Secrets of the Heart<\/p>\n\n\n\n<p><br>Yang menjadi judul dari setiap pelajaran adalah \u201cAti\u2019ullaha wa ati\u2019ur rasula wa ulil amri minkum\u201d (An-Nisa\u2019 59).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Kalian harus mematuhi Allah, patuh kepada Rasulullah dan para pemimpin kalian. Dengan mematuhi Rasulullah, berarti kalian mematuhi Allah . Oleh sebab itu jagalah agar Tuhan dan Rasulullah selalu berada dalam hatimu, dan bila kalian mematuhi gurumu, berarti kalian mematuhi Rasulullah.<\/p>\n\n\n\n<p>Keberadaan seorang guru sangat penting dan setiap orang semestinya memiliki seorang guru. Tanpa guru, tak seorang pun dapat mengalami kemajuan dan tak seorang pun bisa menemukan jejak dan jalur yang harus dituju. Bahkan Rasulullah dan seluruh Rasul yang diutus Allah ke dunia ini juga mempunyai guru. Mereka mempunyai Jibril sebagai guru mereka. Itulah sebabnya kita harus mempunyai seorang guru yang akan menunjukkan jalan kepada Rasulullah dan seterusnya kepada Allah. Jangan berpikir bahwa kalian dapat mencapai suatu tempat tanpa seorang guru, mustahil.<\/p>\n\n\n\n<p>Bila kalian menempuh jalan sendiri, kalian tidak akan mencapai suatu tempat karena jika kalian kehilangan jejak, kalian akan benar-benar tersesat. Oleh sebab itu gunakanlah seorang pemandu yang mengetahui jalan yang kalian tempuh, yaitu orang yang pernah melalui jalan itu sebelumnya, sehingga dia menjadi berpengalaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia akan mengantarmu dan membimbingmu langsung menuju tujuanmu tanpa pergi ke sana ke mari, atau ke suatu tempat yang bisa menyesatkanmu. Itulah sebabnya mengapa kita mempunyai Mata Rantai Emas yang merupakan mata rantai Guru-Guru yang sambung-menyambung dan kembali secara langsung, tanpa interupsi kepada Rasulullah. Inilah yang kita butuhkan, suatu jalinan langsung. Kita tidak menginginkan suatu mata rantai yang terputus di suatu tempat. Suatu pipa yang tertanam di dalam tanah dan membawa air dari satu desa ke desa yang lain harus benar-benar terjalin dengan baik. Jika terdapat satu lubang di suatu tempat, air itu tidak akan sampai. Jika mata rantai Wali itu terputus, kalian tidak akan sampai kepada Rasulullah .Beberapa orang mengatakan, \u201cKami adalah pemeluk Budha, Hindu, Kristen, Judaisme, atau Yoga,\u201d atau suatu bentuk agama dan kepercayaan lainnya. Jika kalian bertanya kepada mereka, \u201cSiapa guru kalian?\u201d Mereka akan menjawab, \u201csi Anu dan Anu,\u201d lalu siapa guru dari si Anu dan Anu tadi? Sekarang kami bukannya ingin menentang suatu agama atau kepercayaan, karena semuanya itu akan mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing, tetapi mengertilah apa yang kami tanyakan, siapa guru dari guru kalian tadi? Orang itu tidak akan tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Seseorang mungkin akan menjawab, \u201cKepercayaannya berasal dari ajaran mistik dari leluhur mereka yang telah berusia 2.000, 3.000, atau 6.000 tahun.\u201d Lalu bagaimana kondisi \u201cpipanya\u201d dalam kurun waktu ribuan tahun itu? Siapa guru-guru yang membentuknya, guru-guru dan Guru Besar yang meneruskannya? Tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya mengenal dua, tiga atau empat guru, setelah itu tidak ada lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah pohon yang tidak berakar tidak akan menghasilkan buah. Pohon yang perakarannya tidak kuat akan mudah diterpa angin karena pondasinya sangat lemah. Seorang guru tidak boleh \u201cmencantelkan diri,\u201d begitu saja tanpa orang-orang mengetahui siapa gurunya, siapa guru-guru sebelumnya sampai guru yang mendirikan jalur tersebut. Itulah sebabnya guru-guru Sufi merupakan guru-guru yang saling terhubung dan merupakan guru-guru terkuat di dunia, mereka mempunyai hubungan yang benar, mereka mengetahui para leluhur mereka. Jika kalian tidak mengetahui leluhur kalian, maka kalian tidak akan terhubung ke mana-mana atau tidak mengetahui ke mana kalian terhubung. Dari Budha hingga sekarang, bisakah seseorang menghitung jumlah guru-gurunya? Atau dalam agama Hindu? Bagaimana dengan agama Sikh? Atau filosofi China? Jelaskan mengenai sekuen guru-guru mereka, atau paling tidak sebutkan nama-nama mereka sejak 3.000 tahun yang lalu. Kami menginginkan mata rantai yang tidak terputus, tanpa ada satu yang hilang. Kalian tidak akan menemukan mata rantai seperti itu, bahkan dalam spiritualitas Kristen atau filosofi Yahudi, kalian hanya bisa menemukannya dalam Sufisme. Dan tanpa mata rantai seperti itu kalian tidak bisa pergi ke mana-mana. Oleh sebab itu kalian membutuhkan guru Sufi untuk mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing. Ini adalah pengetahuan yang diambil dari hati Sayyidina Muhammad saw dan dibawakan melalui mata rantai guru-guru tersebut. Kalian tidak bisa menemukannnya di buku apa pun. Grandsyaikh \u2018Abdullah Fa\u2019iz ad-Daghestani k berkata, Allah memberkati rahasianya, bahwa beberapa saat setelah Rasulullah dilahirkan, beliau diambil oleh malaikat dari tangan ibunya. Dalam sekejap mereka sampai di Samudra al-Hayy. Allah mempunyai 99 Atribut, dan masing-masing merupakan Samudra Pengetahuan yang sangat luas sehingga tak seorang pun dapat memahaminya. Salah satu Samudra itu adalah Samudra al-Hayy, Yang Maha Hidup. Siapa pun yang mengetahui rahasia Nama itu, maka dia tidak akan mati. Dia akan hidup selamanya&#8211;bukan dia sendiri, melainkan bersama setiap orang, karena setiap orang hidup melalui cahaya Ilahi dalam hatinya. Ketika kalian berenang dalam Atribut Nama Ilahi tersebut, itu berarti kalian mempunyai cahaya itu sehingga kalian akan berada dalam hati setiap orang, dan mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap orang. Itulah tempat di mana Rasulullah e diambil oleh para malaikat yang diperintahkan untuk membersihkan hatinya dalam \u201cMa\u2019ul Hayat,\u201d Air Kehidupan. Segera setelah mereka meletakkannya dalam Air Kehidupan, beliau dengan segera memiliki dan disandangkan dengan \u201cAn-Nur al-Ilahi\u201d Cahaya Ilahi. Dan setelah beliau disandangkan dengan Cahaya Ilahi tersebut, segalanya menjadi terbuka baginya, tidak ada lagi sekat yang tersisa. Selanjutnya Rasulullah disandangkan dengan Samudra Kekuatan Ilahi, \u201cBahrul Qudra. \u201dOleh sebab itu ketika keluar dari Ma\u2019ul Hayat, Rasulullah e menerima tiga Atribut, yaitu: pertama, beliau dibersihkan dengan Air Kehidupan dan diberikan kehidupan yang abadi. Kedua, beliau menerima Cahaya Ilahi. Pada saat itu, sebagaima yang telah kami katakan, beliau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh setiap orang dan berada dalam hati setiap orang. Itulah arti dari ayat, <strong><em>\u201cWa\u2019lamuu anna fikum rasuulullah,\u201d<\/em><\/strong> \u201cKetahuilah bahwa Rasulullah SAW ada bersamamu, di antara kamu dan dalam dirimu\u201d (al-Hujurat 7),<\/p>\n\n\n\n<p>karena beliau telah disandangkan dengan Cahaya Ilahi tersebut. Itulah sebabnya Rasulullah e dapat mengetahui apa yang kalian rasakan, bagaimana masa depan kalian, apa yang kalian lakukan, dan apa yang akan terjadi baik di sini maupun di hari kemudian. Allah&nbsp; memberinya kekuatan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang ketiga, Rasulullah e menerima Kekuatan Ilahi dari Samudra Kekuatan Ilahi. Semua ini bersumber pada suatu pengetahuan tingkat tinggi dan harus dipahami dengan seksama. Itu adalah atribut dari \u201cBahrul Qudra,\u201d Samudra Kekuatan, yang pernah diminta oleh Nabi Musa u namun tidak diberikan oleh Allah. Nabi Musa u meminta agar Allah memberinya kekuatan dari Samudra Kekuatan agar bisa berkata kepada sesuatu, \u201cJadilah!\u201d dan jadilah dia, Allah berkata, \u201cTidak, lihatlah gunung itu, Aku akan memberikan cahaya kepada gunung itu. Jika gunung itu tetap berdiri di tempatnya, engkau akan diberikan kekuatan itu, tetapi jika gunung itu melebur atau hancur, engkau tidak bisa menerima kekuatan itu, karena engkau pun akan hancur.\u201d Dan ketika Allah mengirimkan cahaya ke gunung itu, gunung itu menjadi hancur lebur, Nabi Musa u pun jatuh pingsan (al-A\u2019raf 143). Itulah sebabnya Allah mengatakan bahwa kekuatan itu bukan untuknya melainkan untuk Rasul terakhir.<br>Allah telah memberi Rasulullah Samudra Kekuatan itu sehingga beliau bisa mengucapkan Jadilah!\u201d Maka jadilah dia\u2014tanpa perlu meminta izin kepada Allah karena beliau telah berenang dalam Samudra Kekuatan itu. Rasulullah e bersabda, \u201cMaa shabballahu fii shadrii syay-an ilaa wa shababtuhu fi shadri Abii Bakri,\u201d \u201cApa pun yang Allah berikan ke dalam hatiku, telah kuberikan pula ke dalam hati Abu Bakar ash-Shiddiq y\u201d (Maybudi, Razi, Ajluni, Suyuti), kemudian Abu Bakar ra menyerahkan semuanya kepada Salman al-Farisi ra, Salman ra kepada Qasim ra, Qasim ra kepada Ja\u2019far qs, Ja\u2019far qs kepada Tayfur (Bistami) qs, Tayfur qs kepada Sayyidina Khidir as\u2014dan rahasia itu sampai kepada Grandsyaikh dan Grandsyaikh meneruskannya kepada Maulana Syaikh Nazhim k.<\/p>\n\n\n\n<p>Bila Allah memberikan sesuatu, Dia tidak akan mengambilnya kembali. Itulah artinya Maha Pemurah. Ketika kalian memberikan sesuatu dan tidak mengambilnya kembali serta tidak menyesal karena telah memberikannya, berarti kalian mempunyai sifat pemurah atau dermawan. Allah memberi kekuatan kepada Rasulullah untuk mengucapkan Jadilah!\u201d kepada sesuatu maka jadilah dia, dan beliau menyimpan kekuatan itu untuk hari akhir, untuk membawa semua orang ke Surga.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah tidak akan meninggalkan satu orang pun. Beliau akan merangkul seluruh manusia dengan tangannya dan membawanya ke Surga. Itulah Rasul kita. Setelah ketiga Atribut tersebut, datanglah lima tingkatan hati. Ketika Allah menyandangkan beliau, hati Rasulullah tiba-tiba diberkati dengan Kekuatan Ilahi dari lima tingkatan hati, dari satu tingkat ke tingkat berikutnya hanya berlangsung dalam waktu singkat. Tingkat pertama adalah maqam Hati, kemudian maqam Rahasia, lalu maqam Rahasia dari Rahasia, berikutnya maqam Yang Tersembunyi dan terakhir maqam Yang Paling Tersembunyi. Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim k berkata bahwa, setelah Rasulullah disandangkan dengan semua tingkat ini, segala dosa dan perilaku buruk yang berasal dari ummatnya, walaupun dosa setiap orang tidak terhitung lagi jumlahnya, bahkan jika dosa itu menyamai jumlah ummat Rasulullah yang menurut ajaran Sufi jumlahnya mencapai 400 milyar\u2014bagi Rasulullah e itu sama saja, bagaikan sesuatu yang dibersihkan dengan sebilas air. Seperti itulah cahaya yang telah diberikan Allah kepada Rasulullah sehingga beliau dapat membersihkan seluruh dosa tersebut dan memberi manfaat kepada ummatnya seolah-olah semuanya tidak terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah ummat terbaik yang diciptakan oleh Allah , sebagaimana Rasulullah bersabda, \u201cAfdhalul umma akhyarul umma akhirul umma,\u201d \u201cUmmat yang paling baik, ummat yang paling disukai adalah ummat yang terakhir.\u201d Kalian semua adalah ummat terakhir. Menurut Grandsyaikh, dunia ini tidak akan berusia lebih dari 50 tahun tahun lagi. Setelah 50 tahun sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya. Hari Kiamat akan terjadi setelah 50 tahun ini dan ditambah 40 tahun kemudian. Semuanya akan berakhir dalam 90 tahun dari sekarang.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui rahmat yang telah disandangkan kepada Rasulullah e, seluruh dosa manusia akan dihapuskan. Grandsyaikh berkata bahwa walaupun setiap orang mempunyai 400 milyar dosa, semuanya akan dihapuskan, walaupun jumlahnya mencapai jumlah seluruh ciptaan Allah&nbsp; yang meliputi alam semesta dan makhluknya. Dengan mudah semuanya dapat dihilangkan oleh Samudra Rasulullah, seolah-olah tidak ada dosa-dosa yang telah menyentuhmu. Jangan berpikir bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya dan meninggalkannya begitu saja. Allah akan menyandangkan para Wali-Nya dan menyandangkan Rasulullah e dengan Atribut dan Cahaya-Nya untuk menghindarkan orang dari penderitaan dan dosa menuju maqam yang tinggi di hari kemudian.<br>Ketika Salman al-Farisi y, salah satu Wali terbesar yang muncul setelah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq y dan berasal dari Persia, mengetahui dari buku yang telah dibacanya dan melalui suatu tanda di luar kebiasaan yang muncul di gugusan bintang, yang menandakan bahwa Rasul terakhir akan muncul. Beliau tahu bahwa akan terjadi suatu peristiwa besar di dunia ini. Untuk pergi ke Mekkah, beliau menjual dirinya sebagai budak kepada beberapa orang yang pergi ke Mekkah, dan beliau mengiringi unta milik orang yang membelinya sepanjang 5.000 mil dari Persia ke Mekkah untuk bertemu Rasulullah saw. Sekarang kita malah enggan untuk menempuh 20 atau 40 mil dengan kendaraan, dan mengatakan bahwa itu terlalu jauh.<\/p>\n\n\n\n<p>Lihatlah perjalanan para Wali yang sangat panjang dan jauh untuk bertemu dengan Rasulullah .Ketika Rasulullah dibawa ke dunia ini oleh ibunya, Sayyidina Salman al-Farisi y mendengar kegembiraan binatang yang berteriak, \u201cAllahu Akbar!\u201d, semua orang di alam semesta ini bergembira, termasuk binatang, pepohonan dan bintang, karena Rasul terakhir telah datang dan semuanya mengetahui bahwa Allah akan menyandangkan beliau dengan Cahaya Ilahi-Nya\u2014semuanya tahu dan bergembira, kecuali kita ummat manusia. Ummat manusia iri terhadap Rasulullah dan berkata, \u201cMengapa Allah memilihnya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Grandsyaikh berkata, \u201cSaya berbicara dari Samudra Pengetahuan yang akan dibuka ketika Imam Mahdi as telah muncul. Luasnya Pengetahuan yang Saya buka bagaikan cahaya yang melalui lubang jarum.\u201d Jika Maulana berbicara seolah-olah dari sebuah lubang jarum, maka apa yang kita bicarakan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan realitas sesungguhnya. Apa yang akan datang adalah sesuatu yang bisa membuat kalian marah. Ini adalah keterangan mengenai pernyataan Sayyidina Abu Huraira y dalam hadits, \u201cShabba Rasulullah fii qalbi wi\u2019aanaini fa ammaa ahaduhumaa fa batsats-tuhu bii khalqi wa ammal akhara law batsats-tuhu laquthi\u2019a hadzal bul\u2019uum,\u201d \u201cRasulullah e telah meletakkan dua jenis ilmu pengetahuan dalam hatiku. Satu pengetahuan telah kusebarkan kepada orang-orang, tetapi bila pengetahuan yang lainnya kukatakan, mereka akan memotong leherku\u201d (Bukhari). Apa yang Grandsyaikh katakan tergolong pengetahuan jenis kedua\u2014sesuatu yang berada di luar kebiasaan dan akan disebarkan di masa Imam Mahdi u nanti.<\/p>\n\n\n\n<p>Grandsyaikh berkata bahwa pengetahuan ini telah dibuka dalam hati Rasulullah e sejak masa kelahirannya dan hati beliau bagaikan segelas air, transparan di segala sisi. Hatinya begitu transparan sehingga ke mana pun beliau memandang, beliau mendapatkan pengetahuan dan hikmah dan oleh karenanya beliau berbicara berdasarkan ilmu dan hikmah tersebut. Grandsyaikh berkata bahwa ketika jiwa Rasulullah e diambil dari jasadnya oleh para malaikat dan dipersembahkan kepada Kehadirat Ilahi, ibunya mengira bayinya telah meninggal karena tubuhnya diam, tidak bergerak selama satu jam penuh. Tetapi Jibril u segera datang dan berkata kepadanya, \u201cJangan takut, dan jangan ceritakan hal ini kepada seseorang, biarkan saja. Allah telah mengambil jiwanya untuk membersihkannya dan untuk membukakan Atribut dari 99 Nama kepadanya\u2014semuanya adalah Samudra dari Nama-Nama Allah . (Menurut agama Islam, Allah mempunyai 99 Nama, setiap Nama mencakup suatu Atribut Ilahi dan setiap Atribut merupakan sebuah Samudra Pengetahuan yang kedalamannya tidak diketahui seorang pun).Allah membasuh hati Rasulullah dengan \u201cBismillah al-\u2018azhim,\u201d Nama yang Terbesar. Sampai sekarang setiap Wali mencoba untuk mengetahui Nama Allah yang Terbesar, tetapi tidak ada yang mengetahuinya, karena rahasia itu belum dibukakan kepada seseorang, kecuali Rasulullah sendiri yang telah menerima rahasia tersebut di dalam hatinya. Semua sekat dihilangkan dari hati Rasulullah tatkala Allah membasuh hatinya dengan air sungai Khawtsar, sebuah sungai di Surga yang diberikan kepada Rasulullah manakala Allah berfirman, \u201cInnaa a\u2019thaynaakal Khawtsar\u201d (al-Khawtsar 1). Jika seseorang mandi di dalamnya, hatinya tidak akan pernah mati. Inilah sebabnya Rasulullah e bersabda, \u201cAna hayyun thariyyun fii qabri,\u201d \u201cAku hidup dan tetap segar dalam kuburku\u201d (Suyuti).<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika beliau baru berusia 1 jam, Rasulullah e bertanya kepada Allah seolah-oleh beliau melihat-Nya, \u201cWahai Tuhanku, bagaimana dengan ummatku? Apakah Engkau akan membasuh ummatku dengan air dari sungai ini? Jika tidak, aku tidak mau dibasuh sendiri. Aku harus bersama ummatku, aku tidak bisa meninggalkan mereka.\u201d Menurut Rasulullah , ketika beliau meminta hal ini kepada Allah , Allah membasuh seluruh ummatnya dengan air dari Sungai Kehidupan itu. Allah membasuh dan membersihkan hati mereka sampai menjadi bersih dan transparan seperti yang dimiliki Rasulullah,kemudian Allah menyerahkan mereka kepadanya, \u201cAku menyerahkan ummatmu dalam keadaaan bersih, suci, lemah lembut, pemurah, rendah hati, saling mencintai dan menghormati sesamanya. Apakah engkau menerimanya?\u201d Rasulullah yang melihat mereka semua dalam keadaan bersih dan suci lalu berkata, \u201cAku menerimanya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika beliau mengatakan akan membawa mereka, Allah menunjukkan kepadanya bagaimana mereka akan membuat banyak dosa ketika diturunkan ke dunia ini. Rasulullah bersabda, \u201cWahai Tuhanku, apa yang telah Kau lakukan?\u201d Allah menjawab, \u201cLupakan saja, cahaya tidak akan musnah dari dalam hati mereka. Mereka akan menutupi cahaya itu dengan kegelapan, tetapi itu akan seperti lap, dan Aku akan memberimu Awliya yang akan menjadi pembantumu agar mereka dapat membersihkan dan mengkilapkan hati mereka.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kita semua adalah ummat yang diampuni. Allah telah mempercayakan kita kepada Rasulullah dengan Kemurahan-Nya. Kalian akan mendengar lebih banyak lagi pelajaran ini. Namun tetap saja apa yang kita bicarakan ini hanyalah hal-hal yang sepele. Ketika Grandsyaikh memberi izin untuk berbicara mengenai pengetahuan itu, pelajaran tersebut bukan untuk didengar oleh semua orang. Mereka yang mendengar adalah orang-orang yang istimewa dan topik ini hanya bisa dibuka dengan izin Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim k. Setelah Rasulullah menerima ummatnya dengan cahaya mereka, dan setelah Allah menunjukkan dosa-dosa yang akan mereka lakukan, Rasulullah SAW meminta beberapa pembantu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan segera Allah memberinya 7.007 Wali Naqsybandi untuk membantu beliau membersihkan ummatnya. Di antara mereka terdapat 313 Wali yang tingkatannya tinggi. Dan di antara mereka terdapat 40 Guru Besar dari Mata Rantai Emas, jalan kita menuju Rasulullah . Keempat puluh Guru Besar kita mencoba melakukan yang terbaik untuk membersihkan setiap orang dari dosa-dosanya melalui cahaya yang telah diberikan Allah ke dalam hati mereka. Kalian beruntung bahwa kalian berada di tangan salah satu Guru Besar tersebut\u2014Guru Besar terakhir dalam mata rantai ini, Guru yang keempat puluh.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah Khawtsar itu? Menurut riwayat yang tertulis, Khawtsar adalah nama sebuah sungai di Surga, tetapi menurut pemahaman dan pengetahuan Sufistik, Khawtsar adalah nama salah satu Grandsyaikh. Grandsyaikh itu, dengan air di mana Allah membuat simbol dengan namanya dapat menghilangkan dosa-dosa semua pengikutnya, dan menghadirkan mereka dalam keadaan bersih kepada Rasulullah setiap malam. Itulah sebabnya kalian harus bergembira karena kalian telah terhubungkan dengan salah satu Guru Besar yang besar dalam Mata Rantai Emas ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim k bertanya, \u201cMengapa Allah memberi kenabian kepada Rasulullah ? Apakah hanya untuk dirinya sendiri?\u201d Grandsyaikh berkata, \u201cTidak!\u201d Allah telah memberinya kekuatan dan menyandangkannya dengan atribut dari ke-99 Nama dan semua cahaya ini untuk ummatnya juga, agar Rasulullah dapat menyandangkan kita semua dengan cahaya dan atribut yang sama, beliau membagi semua atribut itu kepada kita. Allah telah berfirman kepada Rasulullah , \u201cWahai Rasul-Ku tercinta, Aku akan bertanya kepadamu secara pribadi\u2014Aku ingin setiap orang dari ummat ini menjadi seperti dirimu. Jika mereka tidak seperti dirimu, Aku tidak akan menerimamu sebagai Rasul.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah suatu rahasia yang besar dan luar biasa, yaitu bahwa Rasulullah saw bertanggung jawab untuk membuat setiap orang dari ummatnya agar seperti beliau. Dalam beribadah, beliau akan membagi seluruh ibadahnya untuk kita, hal ini untuk membersihkan dan menyandangkan diri kita dengan semua yang telah didapatkannya, dan untuk menghadirkan kita kepada Allah dalam keadaan suci seperti dirinya. Inilah tugas beliau.<\/p>\n\n\n\n<p>Grandsyaikh dan Maulana Syaikh Nazhim k berkata, \u201cDalam setiap kedipan mata, jarak antara Rasulullah dengan Kehadirat Ilahi semakin dekat dua kali lipat, \u201cYataraqqa mitslaini mitslain,\u201d dalam sekuen geometrik yang berkembang, setiap kedipan mata meningkatkan jarak sebelumnya dua kali lipat. Beliau mengalami kemajuan, dan secara bersamaan beliau juga membawa ummatnya\u2014tanpa diskriminasi dan perbedaan. Ummat ini adalah ummat dari para hamba; dan hamba adalah hamba, budak adalah budak! Tidak ada perbedaan antara Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, maupun Hindu! Mereka semua adalah hamba di hadapan Allah, dan Rasulullah melihat mereka sebagai seorang manusia dan membawanya bersamanya. Pengetahuan ini akan dibuka pada masa Imam Mahdi u dan Nabi \u2018Isa u. Sekarang, ini hanyalah aroma dari apa yang akan terjadi kemudian. Ketika orang-orang berbicara kepadamu tentang Sufisme, apa yang mereka katakan? Mereka hanya anak-anak bila dikaitkan dengan Mata Rantai Emas yang mendapat pengetahuan dari hati Rasulullah e. Apa yang akan dibuka nanti akan menyepelekan apa yang dikatakan oleh orang yang mengaku Guru Sufi itu. Mereka akan menyadari bahwa mereka hanya anak-anak. Pengetahuan mereka bukan apa-apa.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah sebabnya Sayyidina Muhyiddin Ibnu al-\u2018Arabi k, setelah menulis al-Futuhat al-Makkiya berkata, \u201cSaya tidak mengerti apa yang Saya tulis.\u201d Beliau terbiasa tidur dengan sebuah pena di sisinya, ketika beliau bangun, beliau mendapati bahwa pena itu telah menulis sesuatu. Demikian pula ketika beliau menulis, \u201cFusus al-Hikam\u201d dan semua buku yang lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun beliau tidak mengerti, sekarang mereka malah \u201cmenjelaskan\u201d apa yang sebenarnya tidak mereka pahami. Apa yang akan kalian pahami dari yang mereka katakan? Derajat pengetahuan yang tinggi dalam Sufisme tidak bisa dibuka begitu saja, walaupun kalian berpikir telah melihatnya. Jika kalian mempunyai televisi, kalian dapat melihat sesuatu tetapi tidak bisa merasakannya. Dalam Sufisme, jika kalian tidak bisa merasakan dan mengalami sendiri kejadian itu, kalian tidak bisa meraih tingkatan di mana pengetahuan itu digambarkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sufisme adalah \u201cdzawq,\u201d cita rasa. Kalian mempunyai berbagai jenis makanan. Orang-orang mengambil makanan terbaik dan mereka mencoba untuk merasakannya di sini (menunjuk ke mulut) sampai ke sini (menunjuk pangkal kerongkongan). Setelah kedua tempat itu, semua makanan akan sama saja. Sama halnya ketika kalian menonton televisi, seolah-olah itu berlangsung \u201cdari sini ke sini.\u201d Kalian tidak mencicipi atau merasakan sesuatu. Jika kalian tidak bisa merasakannya, itu bukan Sufisme, tetapi pantulan cermin dari Sufisme atau sebuah bayangan. Dan semua \u201cSyaikh\u201d ini\u2014sesungguhnya mereka tidak bisa dipanggil dengan panggilan itu\u2014karena seorang Syaikh adalah derajatnya tinggi\u2014semua orang yang menerangkan Sufisme itu tidak merasakan dan mencicipi. Padalah kedua hal itu sangat penting dalam Sufisme. Sekarang kalian akan berkata, \u201cAnda juga berbicara seperti mereka. Mengapa Anda tidak mencicipi dan merasakan?\u201d Saya akan mengatakan kepada kalian bahwa kalian belum diizinkan untuk bisa merasakannya. Ini akan terjadi pada masa Imam Mahdi u. Kalau tidak dunia ini tidak bisa menampung kalian lagi. Jika kalian memberi anak kecil sebuah permen, dia akan menukarnya dengan berlian dan dia akan kehilangan berlian itu. Jika kalian diberikan pengetahuan seperti itu, kalian akan menyia-nyiakannya tanpa dukungan dari Imam Mahdi u yang akan segera datang. Dukungan itu sangat dibutuhkan. Tanpa dukungan itu, kalian tidak akan mempunyai pintu untuk bisa merasakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang pemimpin Sufi harus memiliki \u2018ilmul yaqin, \u2018aynul yaqin, haqqul yaqin\u2014pengetahuan tentang kepastian, kepastian tentang pengelihatan, dan hakikat tentang kepastian. Pertama adalah \u201cpengetahuan tentang kepastian,\u201d yang merupakan keperluan untuk mengetahui bahwa ada pengetahuan seperti itu dan untuk mendengar tentang hal itu. Ketika kalian mendengarnya, kalian pergi ke tingkat kedua, tetapi pertama kalian harus mendengarnya. Itulah sebabnya, Allah I dalam al-Qur\u2019an sebagaimana semua Guru Sufi dari Jalaluddin Rumi k ke Ibnu al-\u2018Arabi k, Hallaj k, Abu Yazid al-Bistami k menyebutkan bahwa mendengar adalah hal yang pertama. Pengetahuan tidak datang dengan melihat terlebih dahulu tetapi dari mendengar seorang guru, bahkan termasuk orang yang buta. Di lain pihak orang yang tuli, tidak bisa memulai untuk mendapatkan pengetahuan. Ketika malaikat Jibril u mendatangi Rasulullah saw, hal pertama yang dikatakannya adalah \u201cIqra\u201d, bacalah, kemudian Rasulullah saw mendengarnya. Itulah sebabnya Sufisme memberi perintah yang dipenuhi dengan mendengarnya bukan dengan melihatnya. Tingkat pertama ini, tidak diraih dengan mendengar dan tidak merawatnya, tetapi dengan mendengar, menerima, dan memenuhinya dengan tindakan! Jika Syaikhmu mengatakan untuk pergi ke Chicago, memanjat Search Tower, dan melompat ke bawah, dan kalian tidak melakukannya, berarti kalian masih anak-anak dalam pengetahuan Sufi. Dalam thariqat Naqsybandi kalian harus patuh, dan kepatuhan berasal dari pendengaran, jika kalian melakukannya, barulah kalian bisa menuju ke tingkat kedua. Suatu ketika, Grand-grandsyaikh berkata, dalam pertemuan antara Guru-guru besar, ketika Grandsyaikh sedang dalam perjalanan untuk bertemu mereka\u2014ketika itu beliau masih muda\u2014ketika mereka duduk di tempat terpencil di luar kota. \u201cAnakku \u2018Abdullah k telah mencapai tingkat di mana orang belum pernah mencapainya\u2014saya pun tidak, begitu pula dengan seluruh Guru dalam Mata Rantai Emas. Beliau baru 18 tahun sedangkan Saya 60, tetapi beliau telah mencapai level yang lebih tinggi dari Saya dan seluruh Guru lain dalam Mata Rantai Emas yang telah meninggal dunia. Jika Saya mengirimkan seorang anak berusia 7 tahun untuk berkata kepadanya, \u2018Syaikhmu menyuruhmu untuk segera pergi haji ke Makkah,\u2019 dari Daghestan, kota di tengah wilayah Rusia, beliau akan segera berpikir, tanpa datang kepada Saya untuk meminta konfirmasi apakah ini benar atau tidak, \u2018Siapa yang membuat anak itu berbicara? Syaikhku telah mengetahui sebelum Aku mengetahuinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau tidak, bagaimana Aku menerimanya sebagai Syaikhku tetapi masih mengganggap beliau tidak mengetahui segalanya?<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Syaikhku tidak mengetahuinya, lalu siapa yang mengetahuinya?\u2019 Dengan segera beliau akan mempercayai anak itu, dan tanpa pulang ke rumahnya untuk memberitahu ibu atau istrinya bahwa beliau akan naik haji, tanpa membawa pakaian, uang atau makanan, beliau akan langsung menuju Makkah yang berjarak 10.000 mil, berjalan tanpa bertanya apa-apa. Beliau akan mengetahui bahwa perintah itu berasal dariku dan dengan mudah akan mengubah arah perjalanannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah \u201cWahdatul af\u2019al, penyatuan segala tindakan atau perbuatan atau ucapan\u2014kalian harus melihat segala sesuatu berasal dari Allah . Ini adalah tingkat tinggi dalam pengetahuan Sufi. Kalian tidak bisa melihat orang melakukan suatu perbuatan lagi, tetapi kalian harus menganggapnya sebagai suatu alat di tangan Tuhan. Tinggalkan anak-anak\u2014jika Syaikh Nazhim k mendatangimu dan berkata, \u201cPergilah ke Makkah.\u201d Kalian akan berkata, \u201cBaiklah Syaikh, Aku akan membeli tiket, Aku akan lihat apakah istriku mengizinkanku untuk pergi\u2026\u201d Dalam thariqat Naqsybandi kalian tidak diizinkan untuk melakukan semua hal ini. Kalian harus segera pergi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tingkat kedua adalah \u2018aynul yaqin, pengelihatan yang benar. Pada saat itu kalian akan melihat segala yang berada di sekitarmu, tetapi tanpa perasaan. Itu akan seperti layar yang terangkat. Hanya di tingkat ketiga, haqqul yaqin, realitas dari kebenaran\u2014kalian berada di sana dan mengalami kejadian itu. Jika Grandsyaikh berkata tentang apa yang telah kita bicarakan sebelumnya mengenai Rasulullah e, bagaimana beliau dibawa dan hatinya dibersihkan, ketika mendengar hal ini, kalian akan hidup di masa itu seolah-olah kalian hidup dan merasakan semuanya saat itu. Jika Maulana Syaikh Nazhim k berbicara mengenai kejadian yang berlangsung 500 tahun lalu, misalnya, kalian akan hidup seolah-olah kalian hidup di masa itu, kalian mendengar, melihat dan merasakan apa yang mereka dengar, lihat, dan rasakan, seolah-olah kalian adalah salah satu dari mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah cita rasa Sufi dan pengetahuan dari thariqat Naqsybandi yang menghubungkan para pencari kepada Mata Rantai Emas. Ini tidak bisa dibuka sampai masa Imam Mahdi u, kecuali, untuk beberapa pengikut yang istimewa, Maulana Syaikh Nazhim k membukakannya dengan seizin Rasulullah saw.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal itu tidak biasa bagi semua orang. Yang lain harus menunggu dukungan dari pedang Imam Mahdi u untuk memasuki tingkatan itu, kalau tidak orang akan memotong lehernya karena membicarakan apa yang mereka lihat. Dalam thariqat Naqsybandi Syaikh tidak akan membuatmu berbeda dengan orang lain dan ini adalah thariqat yang sempurna, kalian melihat Syaikh yang memiliki segala kekuatan ini, merasakan segala hal dan hidup dalam semua peristiwa, dan melukiskannya, namun demikian beliau tetap berperilaku sebagai orang yang biasa. Dalam aliran Sufi yang lain, mereka tidak bisa mengontrol diri mereka, mereka baru mulai bicara dan langsung ditolak oleh orang-orang. Oleh sebab itu Syaikh tidak pernah menerima untuk membuka pengetahuan untukmu jika kalian belum siap dan jika beliau melihat bahwa kalian akan memperlihatkan apa yang diberikannya kepadamu kepada masyarakat umum. Itulah sebabnya mengapa belum ada izin agar pintu itu dibuka.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"475\" height=\"693\" src=\"https:\/\/nurrulhaqq.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/Silsilah-Mata-rantai-Emas.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-411\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/nurrulhaqq.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/Silsilah-Mata-rantai-Emas.jpg 475w, https:\/\/nurrulhaqq.com\/wp-content\/uploads\/2025\/01\/Silsilah-Mata-rantai-Emas-206x300.jpg 206w\" sizes=\"auto, (max-width: 475px) 100vw, 475px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mata Rantai Emas Thariqat Naqsybandi Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani dalam Mercy Oceans Secrets of the Heart Yang menjadi judul dari setiap pelajaran adalah \u201cAti\u2019ullaha wa ati\u2019ur rasula wa ulil&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":411,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7,3],"tags":[],"class_list":["post-62","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ajaran","category-mengenai-tarekat-naqsybandi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=62"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":412,"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/62\/revisions\/412"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/411"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=62"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=62"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nurrulhaqq.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=62"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}